Pencarian

Anak Muda Minang di Rantau Pentaskan Randai di Taman Ismail Marzuki, Empat Lakon Epik Sudah Digarap

Selasa, 23 Juni 2026 • 19:32:31 WIB
Anak Muda Minang di Rantau Pentaskan Randai di Taman Ismail Marzuki, Empat Lakon Epik Sudah Digarap
Anak muda Minang di Jakarta tampilkan Randai di Taman Ismail Marzuki.

JAKARTA — Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, sekelompok anak muda Minang di rantau memilih menghabiskan waktu untuk latihan, menari, bersilat, dan berdendang. Mereka bukan sekadar pelestari, melainkan penjaga api tradisi Randai yang diwariskan turun-temurun. Panggung berkapasitas 1.200 kursi di TIM penuh sesak saat mereka membawakan lakon Bujang Sambilan, mahakarya keempat yang mereka garap sejak 2019.

Empat Mahakarya yang Sudah Dihasilkan

Founder Sumbar Talenta Indonesia, Sastri Bakry, mengungkapkan bahwa pementasan Randai ini bukan yang pertama. Sebelum Bujang Sambilan, kelompok ini sudah mementaskan tiga lakon lainnya: Syekh Burhanuddin, Malin Kundang, dan Siti Manggopoh. "Saya bangga sekaligus malu, karena di awal dulu betapa kerasnya saya pada mereka. Mahakarya pertama mengangkat cerita Syekh Burhanuddin. Kami tak mendapatkan sponsor, kami menjual undangan," kata Sastri dalam pernyataannya.

Undangan Termahal untuk Seni Tradisi

Sastri menceritakan bahwa untuk pentas perdana, mereka menjual undangan dengan harga bervariasi: Rp 5 juta, Rp 2,5 juta, dan Rp 1 juta. Undangan termurah tetap Rp 100 ribu. Banyak pihak mencemooh, menganggap tak ada yang mau membayar mahal untuk seni tradisi. Namun, kenyataan berkata lain. Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail yang menjadi tempat pentas perdana penuh. Kini, di mahakarya keempat, sponsor justru berdatangan untuk mendukung mereka.

Modern Tak Harus Melupakan Tradisi

Pementasan Randai kali ini digarap oleh sutradara senior Jose Rizal Manua, yang rambutnya sudah memutih namun semangatnya tetap seperti anak muda. Ia berkolaborasi dengan Jo Harsen, Andha Zulfirman (Ketua Yayasan Sumbar Talenta Indonesia), Agus Siswanto (Ketua Gemumi), dan Kurnia Wati. "Mereka merawat tradisi bukan dengan museum yang berdebu, tapi dengan keringat, dengan latihan sampai kaki kapalan, dengan hati yang mau belajar," ujar Sastri.

Randai Bukan Sekadar Tarian, Tapi Identitas

Bagi Sastri, Randai adalah seni tradisi Minang paling komplit. Ada silat, dendang, dan drama yang menyatu. Langkah silat para pemuda itu bukan sekadar gerak, melainkan janji bahwa keberanian tak akan punah. Nyanyian mereka bukan sekadar suara, melainkan doa agar kisah Cindua Mato, Malin Deman, dan Bujang Sambilan tak hilang ditelan zaman. "Di tangan mereka tradisi tidak jadi barang antik. Tradisi jadi napas. Jadi identitas yang gagah," tegasnya.

Dari Surau ke Panggung Besar

Randai yang dulu hanya hidup di surau dan lapau, kini bersinar di panggung besar. Sastri menegaskan bahwa selama masih ada anak muda Minang yang mau berbaju kurung, basuntiang, badendang, mengikat destar, dan bersilat, maka Minangkabau tidak akan pernah mati. "Kalian bukan hanya pewaris. Kalian penjaga api. Diakui atau tidak, itulah faktanya," pungkas Sastri Bakry, Founder Sumbar Talenta Indonesia.

Bagikan
Sumber: jurnalsumbar.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks