PADANG — Pemandangan kontras terlihat di Sungai Batang Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat, Selasa (28/7/2026). Aliran air yang biasanya deras kini hanya berupa genangan kecil di beberapa titik. Debit air sungai dengan panjang mencapai 32,4 kilometer dari hulu hingga muara itu menyusut signifikan.
Kondisi ini merupakan dampak langsung dari musim kemarau yang tengah berlangsung. Warga yang melintas di tepi sungai tampak was-was menyaksikan perubahan drastis pada sungai yang sempat menjadi sumber kehidupan mereka.
Bekas Luka Banjir Bandang dan Ancaman Kemarau
Ironisnya, Sungai Batang Kuranji masih menyisakan bekas kerusakan parah akibat banjir bandang yang melanda tahun lalu. Kini, di saat masyarakat masih dalam proses pemulihan, ancaman baru datang dalam bentuk kekeringan.
Kontur sungai yang rusak pasca-banjir bandang membuat daya tampung air semakin berkurang. Saat kemarau tiba, air lebih cepat menguap dan meresap ke dalam tanah, memperparah penyusutan debit.
Warga Mulai Rasakan Dampak Kekeringan
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Beberapa warga yang tinggal di bantaran sungai mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka terpaksa membeli air dari penjual keliling atau mengambil dari sumur yang mulai surut.
“Kalau begini terus, kami khawatir sumur-sumur warga ikut kering. Padahal, air sungai ini dulu jadi andalan kalau musim kemarau,” ujar seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya.
Pemkot Padang Diminta Siaga
Menyusul kondisi ini, warga berharap Pemerintah Kota Padang segera mengambil langkah antisipasi. Distribusi air bersih melalui mobil tangki dinilai menjadi solusi jangka pendek yang paling mendesak.
Belum ada pernyataan resmi dari pihak Pemkot Padang terkait langkah penanganan darurat kekeringan ini. Namun, warga berharap pemerintah tidak menunggu hingga krisis benar-benar meluas.