SUMATERA BARAT — Penguatan rupiah pagi ini tidak berjalan sendiri. Dolar Taiwan memimpin penguatan mata uang Asia dengan apresiasi 0,41%, disusul peso Filipina yang naik 0,36% dan won Korea Selatan yang menguat 0,30%. Pergerakan ini mengindikasikan aliran modal asing mulai kembali merapat ke kawasan emerging market Asia di tengah spekulasi pelonggaran moneter Federal Reserve.
Di sisi lain, tekanan masih membayangi sejumlah mata uang regional. Rupee India melemah 0,05% dan dolar Hong Kong terdepresiasi tipis 0,01% terhadap greenback pada perdagangan pagi ini.
PDB Jadi Katalis Utama Pergerakan Rupiah
Fokus pasar tertuju pada rilis data pertumbuhan ekonomi domestik yang dijadwalkan keluar siang ini. Konsensus ekonom memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 4,9%-5,1% pada kuartal kedua, didorong konsumsi rumah tangga yang solid selama periode Lebaran dan musim kampanye politik.
Angka PDB yang berada di atas ekspektasi berpotensi memperkuat posisi rupiah lebih jauh, sekaligus memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menahan laju penurunan suku bunga acuan. Sebaliknya, hasil yang mengecewakan bisa memicu koreksi tajam pada aset berisiko domestik.
Sentimen Eksternal Mulai Bersahabat
Penguatan rupiah pagi ini juga ditopang oleh meredanya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik dagang AS-Tiongkok. Data tenaga kerja AS yang dirilis Jumat lalu menunjukkan tanda-tanda pelambatan, memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada September mendatang.
Kondisi tersebut membuat indeks dolar AS tertekan, memberikan ruang apresiasi bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Pelaku pasar kini mencermati apakah penguatan ini akan berlanjut setelah data PDB dirilis atau justru berbalik arah jika terjadi aksi ambil untung.
Sepanjang tahun berjalan, rupiah masih mencatatkan depresiasi sekitar 3,8% terhadap dolar AS, dipengaruhi oleh tingginya permintaan dolar korporasi dan pembayaran utang luar negeri swasta. Namun, penguatan dua hari terakhir memberikan sinyal bahwa tekanan jual mulai berkurang.
Level psikologis Rp18.000 per dolar AS kini menjadi resistance kunci. Jika rupiah mampu bertahan di bawah level tersebut hingga akhir pekan, peluang penguatan lanjutan menuju Rp17.800 akan semakin terbuka.
Investasi mengandung risiko.