PADANG — Kualitas udara di wilayah timur Sumatera Barat (Sumbar) mulai berada di level yang mengkhawatirkan. Berdasarkan pantauan terbaru, empat kabupaten yakni Dharmasraya, Sijunjung, Solok, dan Limapuluh Kota tercatat masuk kategori kurang sehat akibat kabut asap.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumbar, Tasliatul Fuaddi, menyebut kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut tidak hanya berasal dari titik panas di dalam provinsi, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi di provinsi-provinsi tetangga.
“Asap tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi di provinsi-provinsi sekitar. Penyebarannya sangat bergantung pada arah angin yang membawa asap ke wilayah lain,” ujarnya, Selasa (25/8/2026).
Wilayah Pesisir Masih Aman, Bagian Timur Terpapar
Fuaddi menjelaskan, tidak seluruh wilayah Sumbar mengalami kondisi serupa. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), daerah pesisir masih memiliki kualitas udara yang relatif baik.
“Berdasarkan informasi dari BMKG, kualitas udara di wilayah pesisir Sumatera Barat masih tergolong baik. Parameter yang dipantau masih berada dalam kondisi yang relatif baik,” jelasnya.
Namun, situasi berbeda terjadi di belahan timur. “Untuk wilayah Sumbar bagian timur, kualitas udaranya sudah masuk kategori kurang sehat,” sambungnya.
Daerah Perbatasan Paling Rentan Terdampak
Pergerakan asap yang dipengaruhi arah angin membuat beberapa daerah memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan lainnya. Wilayah yang berbatasan langsung dengan provinsi lain disebut menjadi titik paling rawan.
“Wilayah yang berada di sekitar perbatasan dengan provinsi lain berpotensi lebih terdampak apabila massa udara membawa asap dari daerah sumber karhutla,” tuturnya.
Masker Jadi Langkah Perlindungan Utama
Menghadapi kondisi ini, pemerintah kabupaten dan kota diminta untuk segera meningkatkan kewaspadaan. Imbauan kepada masyarakat, terutama di wilayah dengan kualitas udara yang memburuk, dinilai perlu dilakukan secara masif.
“Segera mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker, terutama karena kualitas udara di beberapa daerah sudah terpantau kurang sehat,” jelas Fuaddi.
Fuaddi menambahkan, kualitas udara dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti arah angin dan kondisi cuaca. Pemantauan terhadap perkembangan kabut asap terus dilakukan bersama BMKG untuk mengantisipasi potensi memburuknya situasi.
“Penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang dapat dilakukan masyarakat ketika kualitas udara mulai memburuk,” pungkasnya.