SUMATERA BARAT — JAKARTA — Potensi kebocoran penerimaan negara dari sektor ekspor terungkap dalam diskusi tertutup Nagara Institute bersama Akbar Faizal Uncensored di Palembang, Kamis (27/8/2026). Managing Director Business 3 Danantara Asset Management Febriany Eddy memaparkan bahwa DSI telah membangun platform digital yang melacak pergerakan ekspor dari 50 pelabuhan, 25 provinsi, hingga 100 negara tujuan.
Angka 5 miliar dolar AS yang ditemukan tersebut masih membutuhkan validasi lebih lanjut sebelum resmi dikategorikan sebagai under invoicing. Namun, jumlah itu menjadi sinyal awal bahwa pengawasan ekspor Indonesia selama ini belum optimal.
Celah Kebocoran di Depan Mata
Peneliti Nagara Institute Edi Sewandono menjelaskan, selama ini eksportir bisa berhubungan langsung dengan pembeli asing tanpa mekanisme agregasi. Akibatnya, harga, volume, dan pembayaran sulit dipantau pemerintah secara menyeluruh.
"Terdapat kesenjangan antara besarnya kontribusi ekspor Indonesia dengan penerimaan keuangan negara yang masih kecil," ujar Edi dalam keterangan tertulisnya.
Menurut Edi, celah ini dimanfaatkan melalui praktik under invoicing—pelaporan nilai ekspor lebih rendah dari harga sebenarnya—serta transfer pricing yang menggeser keuntungan ke negara lain. Kedua praktik ini yang coba ditutup DSI lewat sistem pengawasan terintegrasi.
Delapan Mesin Analitik dan Peran Surveyor
Febriany mengatakan platform DSI dilengkapi delapan mesin analitik yang memeriksa harga, kuantitas, kualitas, afiliasi, pengiriman, data negara tujuan, hingga penerimaan. Seluruh alur dokumen, fisik, dan pembayaran direkonsiliasi secara end to end untuk meminimalkan intervensi manusia.
"Kata kuncinya penguatan tata kelola supaya ada optimalisasi sumber daya negara Indonesia ini yang memberikan optimum value," kata Febriany.
DSI juga menyiapkan kerja sama dengan lembaga surveyor seperti SGS, Sucofindo, atau Surveyor Indonesia untuk memastikan sampling dan pemeriksaan laboratorium dapat dipertanggungjawabkan. Teknologi berbasis kecerdasan artifisial turut dikembangkan untuk mendeteksi potensi penyimpangan sejak awal.
Independensi Jadi Kunci Keberhasilan
Edi mengingatkan DSI akan menghadapi perlawanan dari pelaku besar yang selama ini memiliki pengaruh dalam perdagangan komoditas strategis Indonesia. Keberanian menjaga independensi menjadi syarat mutlak agar mandat pengawasan berjalan efektif.
Ia juga mengusulkan fungsi perdagangan tidak seluruhnya dibebankan kepada DSI. Perusahaan dagang yang sudah ada bisa tetap beroperasi, sementara DSI fokus pada pemantauan dan pengawasan transaksi. Pendekatan ini dinilai menjaga tujuan reformasi tanpa menempatkan negara pada risiko pendanaan komoditas.
Febriany menegaskan eksportir yang patuh tidak perlu khawatir. DSI berkomitmen menjaga kontinuitas ekspor dan kepastian berusaha, sambil memastikan setiap transaksi berjalan transparan dan sesuai ketentuan.
Direktur Eksekutif Nagara Institute Akbar Faizal menyatakan kritik terhadap Danantara tetap diperlukan, namun harus disertai riset mendalam agar masukan yang disampaikan punya dasar analitis yang kuat.