PASAMAN BARAT — Bupati Pasaman Barat Yulianto menegaskan penanganan stunting membutuhkan komitmen dan kerja sama berkelanjutan antara pemerintah daerah, mitra pembangunan, tenaga kesehatan, serta masyarakat. Kolaborasi dengan Tanoto Foundation sendiri sudah berjalan sejak 2021 dan kini diperkuat lewat pertemuan lintas sektor di aula rumah dinas bupati.
Dua data jadi dasar percepatan penanganan. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) mencatat prevalensi stunting balita di Pasaman Barat sebesar 26,6 persen pada 2024. Sementara data elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) 2026 mencatat angka 10,5 persen.
Mengapa Dua Angka Stunting Pasaman Barat Berbeda Jauh
Selisih kedua angka bukan perkara sepele. SKI dan e-PPGBM memakai metode pengumpulan data yang berbeda, sehingga pembacaan capaian penurunan stunting perlu merujuk pada sumber yang sama antarperiode. Pemkab memilih memakai keduanya sebagai basis perencanaan program.
"Ini menjadi tugas besar kita bersama untuk memastikan seluruh anak di Pasaman Barat mendapatkan asupan gizi yang baik, pelayanan kesehatan berkualitas, serta pola pengasuhan yang tepat. Upaya ini harus terus diperkuat agar penanganan stunting berjalan optimal," ujar Yulianto.
Aksi Konvergensi Lintas OPD Jadi Strategi Utama
Kepala Bappelitbangda Pasaman Barat Joni Hendri menjelaskan strategi percepatan dilakukan lewat penguatan aksi konvergensi lintas sektor dan Komunikasi Perubahan Sosial dan Perilaku (Social and Behaviour Change Communication/SBCC).
"Melalui aksi konvergensi, program berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) diintegrasikan agar intervensi kesehatan, pemenuhan gizi, penyediaan air bersih, sanitasi layak, dan edukasi pengasuhan dapat menjangkau keluarga sasaran secara tepat," jelasnya.
Pendekatan SBCC diarahkan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi partisipatif yang sesuai kondisi sosial budaya setempat. Fokus perhatian diarahkan pada pemenuhan gizi selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Enam Intervensi yang Dikejar di Garis Depan
- Pemenuhan gizi ibu hamil
- Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan
- Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) bergizi dan kaya protein hewani
- Pemantauan pertumbuhan anak secara rutin di posyandu
- Edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta kebiasaan mencuci tangan dengan sabun
- Pemanfaatan air bersih dan sanitasi layak
Kader Posyandu dan Bidan Desa Jadi Ujung Tombak
Regional Lead Tanoto Foundation Medi Yusia menyampaikan kolaborasi dengan Pemkab Pasaman Barat merupakan langkah strategis untuk memastikan intervensi pencegahan dan penurunan stunting berjalan berkelanjutan, terintegrasi, dan tepat sasaran. Keberhasilan penanganan stunting, menurutnya, butuh keterlibatan seluruh unsur mulai pemerintah pusat dan daerah, organisasi filantropi, akademisi, media, hingga masyarakat.
"Penguatan kapasitas petugas di garis depan, seperti kader posyandu, bidan desa, dan tenaga penyuluh kesehatan, juga menjadi perhatian penting karena mereka berinteraksi langsung dengan keluarga sasaran," katanya.
Lewat penguatan kolaborasi itu, Pemkab Pasaman Barat bersama Tanoto Foundation berharap percepatan penurunan stunting semakin optimal dalam mewujudkan generasi sehat, cerdas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.