SUMATERA BARAT — Cristiano Ronaldo mengakhiri karier internasionalnya bersama Timnas Portugal setelah 234 penampilan dan 23 tahun mengabdi. Keputusan itu disampaikan lewat pesan video lima menit, menjelang pengumuman skuad November, dengan penyerang berusia 41 tahun itu menyebut momen melepas kapten sebagai pilihan hati, bukan sekadar kepala.
Penyerang Al-Nassr tersebut terakhir kali masuk skuad Portugal pada September lalu. Saat itu ia hanya menjadi pemain pengganti yang tidak dimainkan ketika Portugal mengalahkan Norwegia di ajang Nations League. Setelah laga itu, Ronaldo memilih menarik diri dari pemusatan latihan untuk rangkaian pertandingan Oktober sebelum akhirnya mengumumkan pensiun.
Dari Agustus 2003 hingga Ban Kapten yang Kembali ke Timnas
Ronaldo menyebut perjalanan internasionalnya dimulai pada Agustus 2003, titik yang ia akui mengubah hidupnya. Selama dua dekade lebih, ia mengenakan ban kapten yang menurutnya bukan milik pribadi, melainkan milik seluruh rakyat Portugal.
"Hari ini, saatnya mengembalikan jersey dan ban kapten tim nasional yang menjadi milik kita semua. Saya tidak pernah merasa itu hanya milik saya, tetapi selama 23 tahun saya punya kehormatan dan tanggung jawab memakainya, membelanya, dan membawanya ke stadion-stadion di seluruh dunia," ujar Ronaldo dalam pernyataannya.
Alasan Pensiun: Keputusan Hati, Bukan Sekadar Kepala
Ia mengakui keputusan ini tidak mudah diambil. Ronaldo menegaskan sejumlah keputusan besar dalam hidupnya tidak lahir dari perhitungan semata, melainkan dari dorongan hati.
"Keputusan ini tidak mudah, karena beberapa keputusan tidak dibuat hanya dengan kepala. Keputusan itu juga dibuat dengan hati," kata pemain kelahiran Funchal tersebut.
Yang Dikenang Ronaldo: Bukan Trofi, tapi Manusia
Saat menoleh ke belakang, Ronaldo tidak hanya melihat pertandingan, gol, rekor, atau trofi. Ia melihat orang-orang yang, selama 90 menit, merasa lebih dekat dengan Portugal.
"Saya melihat para imigran yang, selama 90 menit, merasa sedikit lebih dekat dengan Portugal. Saya melihat jutaan orang Portugal yang tidak pernah saya temui secara pribadi, tetapi menjadi bagian dari hidup saya. Karena pada akhirnya, sepak bola jauh lebih besar dari sekadar permainan. Sepak bola adalah tentang manusia," ucapnya.
Gol Bisa Datang dan Pergi, Tempat di Hati Tidak
Ronaldo mengakui pernah gagal dan menderita, termasuk saat tidak mampu memberikan yang diinginkan rakyat Portugal. Namun ia menegaskan tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti merasa bangga mewakili negaranya.
"Gol datang dan pergi, trofi berakhir di museum, rekor pada akhirnya akan dipecahkan, tetapi ada sesuatu yang tidak bisa dihapus waktu. Tempat yang saya miliki di hati orang-orang," tuturnya.
Ia berharap momen-momen kebahagiaan yang ia berikan, termasuk gol-gol yang membuat orang memeluk sesama atau melupakan kekhawatiran sejenak, membuat seluruh pengabdiannya berarti.
Pesan untuk Rekan Setim dan Generasi Penerus Portugal
Kepada rekan-rekan setimnya, Ronaldo menyampaikan terima kasih atas setiap lari, pelukan, perdebatan, dan keheningan sebelum kick-off. Ia juga menegaskan tidak ada kapten yang berjalan sendiri.
Ronaldo lantas menyoroti pentingnya regenerasi. Menurutnya, Portugal akan selalu membutuhkan anak muda yang bermimpi dan pemain yang tidak pernah menyerah, karena negara yang terus melahirkan pahlawan baru adalah negara yang tidak berhenti percaya pada dirinya sendiri.
Ucapan terima kasih juga ia sampaikan kepada para pelatih, direktur, dokter, fisioterapis, pengurus perlengkapan, dan staf yang jarang muncul di foto. Kepada keluarganya, Ronaldo berterima kasih karena telah memahami kepergian, pengorbanan, dan waktu yang terbagi untuk tim nasional.
Momen Lagu Kebangsaan yang Akan Selalu Dibawa
Di akhir pernyataannya, Ronaldo mengenang satu gambar yang akan selalu ia bawa: saat lagu kebangsaan dimulai. Ia melihat rekan setim, tribun penonton, anak-anak, ibu, ayah, dan kakek-nenek, termasuk orang-orang Portugal yang datang dari jauh hanya untuk hadir.
"Dan pada momen-momen itu, kita berhenti menjadi berbeda. Tidak ada klub. Tidak ada warna. Tidak ada kelas. Tidak ada profesi. Tidak ada pendapat. Hanya ada satu gairah: Portugal," pungkas Ronaldo.