SUMATERA BARAT — Proses naturalisasi dua pemain diaspora untuk Timnas Indonesia memasuki babak krusial. Setelah melalui serangkaian pembahasan, Komisi X DPR RI resmi memberikan persetujuan untuk Luke Vickery dan Mitchell Baker. Kabar ini langsung mendapat respons positif dari Ketua Umum PSSI, Erick Thohir.
Sinergi Pemerintah dan Federasi Jadi Kunci Percepatan
Erick Thohir menyebut dukungan DPR menjadi bukti nyata kolaborasi lintas sektor dalam membangun sepak bola nasional. Menurutnya, percepatan ini tidak bisa dilepaskan dari keseriusan pemerintah dan wakil rakyat yang melihat urgensi penguatan skuad Garuda.
"Ini wujud nyata sinergi yang luar biasa antara pemerintah, wakil rakyat, dan federasi dalam membangun Timnas Indonesia yang lebih tangguh di kancah internasional," ujar Erick Thohir, Selasa (16/6/2026).
Bukan Sekadar Naturalisasi, Pembinaan Lokal Tetap Prioritas
Pria yang juga menjabat Menteri BUMN itu menegaskan bahwa kebijakan naturalisasi hanya satu sisi dari program besar PSSI. Federasi tetap berkomitmen penuh pada pembinaan usia muda dan penguatan kompetisi domestik sebagai fondasi utama.
"Kami sangat menghargai setiap catatan dari dewan dan akan terus menjaga amanah ini, tidak hanya melalui naturalisasi yang selektif, tetapi juga dengan terus memperkuat pembibitan dan pembinaan pemain lokal jangka panjang," lanjut Erick.
Peran Diaspora: Transfer Pengalaman ke Pemain Lokal
Kehadiran Vickery dan Baker tidak hanya untuk menambah kedalaman skuad. Erick Thohir secara spesifik menyebut dua pemain ini diharapkan bisa menjadi katalis bagi pemain lokal, khususnya dalam hal pengalaman dan kualitas individu.
"Kedua atlet itu diperlukan untuk memperkuat kedalaman skuad tim nasional. Mereka juga diharapkan mampu mentransfer pengalaman serta melengkapi kualitas pemain lokal, baik untuk kepentingan tim nasional maupun kompetisi profesional," jelas Erick.
Langkah ini pun menarik perhatian media Asia Tenggara, termasuk Vietnam. Negeri tetangga menilai Indonesia serius memperkuat tim melalui jalur naturalisasi demi mengejar ketertinggalan di level internasional.