SIMPANG EMPAT — Kepala Dinas Pendidikan Pasaman Barat, Imter Pedri, mengungkapkan bahwa proyek revitalisasi ini dikerjakan dengan sistem swakelola. Artinya, anggaran langsung ditransfer ke rekening masing-masing sekolah dan dicairkan dalam dua tahap.
"Kami terus melakukan monitoring pelaksanaan pembangunannya agar tepat sasaran dan sesuai waktu yang ditetapkan," ujar Imter Pedri di Simpang Empat, Rabu.
Daftar Sekolah yang Mendapat Revitalisasi
Dana revitalisasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini menyasar jenjang pendidikan dari TK hingga SMP. Berikut rincian sekolah yang sudah dipastikan menerima anggaran:
- TK (11 sekolah): TK Al Ikhlas Sasak Ranah Pasisia, TK IT Raudhatul Jannah Sasak Ranah Pasisia, TK Lailil Adnin Sungai Beremas, TK Ceria Maligi Sasak Ranah Pasisia, TK Banjar Bahal Ceria Lembah Melintang, TK Mutiara Bunda Sungai Aur, TK Dharma Wanita Ujung Gading, TK ABA Air Bayang Lembah Melintang, TK Arsyadiyah Lembah Melintang, TK Negeri Pembina Ranah Batahan, dan TK ABA Air Bangis.
- SD (9 sekolah): SDN 12, 03, 02, dan 08 Ranah Batahan; SDN 10 Sungai Beremas; SDN 25 Lembah Melintang; SDN 08 Koto Balingka; SDN 03 Sungai Aur; dan SDN 18 Kinali.
- SMP (5 sekolah): SMP N 2 dan 5 Sungai Beremas, SMP S Muhammadiyah Air Bangis, SMP S IT Al-Hasanah, dan SMPS Muhammadiyah Ujung Gading.
Ada Tambahan 15 Sekolah Calon Penerima
Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Idris, mengatakan bahwa selain 25 sekolah tersebut, masih ada sembilan SD dan enam SMP yang tengah diverifikasi sebagai calon penerima revitalisasi. "Tim saat ini sedang verifikasi ke lapangan melengkapi dokumen-dokumen persyaratannya," jelas Idris.
Ia berharap seluruh pengerjaan mengikuti petunjuk teknis yang sudah ditentukan agar sekolah-sekolah itu bisa segera digunakan dengan baik oleh para murid.
Mengapa Sistem Swakelola?
Pemilihan sistem swakelola disebut sebagai upaya mempercepat proses pembangunan. Dengan anggaran yang langsung dikelola pihak sekolah, diharapkan tidak ada birokrasi berbelit yang menghambat perbaikan fasilitas pendidikan yang rusak akibat bencana.