SOLOK — Program Provinsi Madani Asta Cita (PM-AAS) di Sumatera Barat mulai diuji coba di lahan pertanian. Pemerintah provinsi menargetkan produktivitas gabah bisa naik signifikan dari rata-rata saat ini menjadi 12 ton per hektare. Target tersebut diungkapkan Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy saat meninjau panen padi di Kabupaten Solok baru-baru ini.
Strategi Mencapai 12 Ton: Benih Unggul hingga Mekanisasi
Vasko menjelaskan, peningkatan produksi itu bisa terealisasi jika petani mengadopsi sejumlah teknologi modern. “Melalui Program PM AAS, kita ingin mendorong produktivitas gabah dari rata-rata yang ada saat ini menjadi 12 ton per hektare. Ini bisa dicapai dengan penggunaan benih unggul, mekanisasi pertanian, pengelolaan lahan yang baik, serta pendampingan yang berkelanjutan kepada petani,” ujarnya.
Menurutnya, sektor pertanian menjadi prioritas pembangunan daerah. Karena itu, transformasi dari pertanian tradisional menuju pertanian modern yang lebih efisien dan produktif terus didorong.
Kolaborasi Jadi Kunci Sukses Program
Vasko menekankan, keberhasilan PM-AAS tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan sinergi antara pemda, penyuluh pertanian, akademisi, dan kelompok tani. “Kolaborasi seluruh pihak adalah kunci,” tegasnya.
Selain mendongkrak produksi, program ini juga dirancang untuk menekan biaya produksi. Caranya dengan penggunaan alat dan mesin pertanian modern, penguatan irigasi, dan perluasan teknologi pertanian presisi.
Optimisme Pemprov: Bertahap dan Berkelanjutan
Pemprov Sumbar optimistis target 12 ton per hektare bisa dicapai secara bertahap. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan daerah dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Vasko juga mengingatkan pentingnya pendampingan berkelanjutan agar adopsi teknologi berjalan efektif di lapangan.
Dengan berbagai langkah tersebut, Sumatera Barat berharap bisa menjadi contoh penerapan pertanian modern di Indonesia. Program PM-AAS sendiri merupakan inisiatif unggulan Pemprov Sumbar yang menyasar sektor pertanian sebagai ujung tombak ekonomi daerah.