PADANG PANJANG — Puluhan siswa berkebutuhan khusus di SLBN 1 Padang Panjang kini memiliki bekal bertahan hidup saat bencana melanda. Tim pengabdian dari Departemen Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Padang (UNP) melatih mereka menggunakan tas siaga bencana berbasis teknologi informasi (IT) yang dipadukan dengan perlengkapan konvensional.
Kota Padang Panjang berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan dekat dengan Gunung Marapi yang masih aktif. Kondisi geografis ini membuat wilayah tersebut memiliki potensi risiko gempa bumi, banjir, dan letusan gunung api.
QR Code di Tas Siaga: Jembatan Informasi bagi Siswa SLB
Inovasi utama dalam pelatihan ini adalah tas siaga yang dilengkapi QR Code. Saat dipindai, kode tersebut menampilkan panduan mitigasi bencana, video edukasi, dan media digital kesiapsiagaan yang bisa diakses melalui perangkat Android maupun iOS.
"Media digital tersebut digunakan sebagai pendukung pembelajaran, agar siswa memperoleh informasi kebencanaan melalui tampilan visual yang lebih menarik dan mudah dipahami," jelas Prof. Dr. Mega Iswari, M.Pd., di Padang, Minggu.
Selain versi digital, siswa juga diperkenalkan tas siaga konvensional yang berisi senter, masker, kotak P3K, makanan darurat, air minum, dan perlengkapan pendukung lainnya. Kombinasi ini membuat siswa tidak hanya paham teori, tetapi juga mengenal fungsi setiap perlengkapan saat situasi darurat.
Simulasi Evakuasi dan Pengenalan Jenis Bencana
Materi pelatihan mencakup pengenalan jenis bencana yang berpotensi terjadi di Kota Padang Panjang. Penyampaian materi dilakukan melalui pendekatan visual, demonstrasi, dan simulasi langsung agar mudah dipahami siswa dengan karakteristik kebutuhan khusus yang beragam.
"Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa mampu mengenali jenis bencana, serta memahami tindakan yang perlu dilakukan ketika terjadi kondisi darurat," lanjutnya.
Para siswa terlihat aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari penyampaian materi, pengenalan perlengkapan tas siaga, hingga simulasi evakuasi. Guru pendamping juga mendapat strategi pendampingan siswa berkebutuhan khusus dalam situasi darurat.
Menjawab Keterbatasan Media Edukasi Kebencanaan yang Adaptif
Kegiatan ini lahir dari hasil observasi awal tim pengabdian yang menemukan sejumlah kebutuhan mendesak di sekolah. Keterbatasan media pembelajaran kesiapsiagaan bencana yang adaptif dan belum tersedianya perangkat edukasi kebencanaan sesuai karakteristik siswa menjadi alasan utama pelatihan ini digelar.
Tim pelaksana kegiatan pengabdian terdiri dari Dra. Zulmiyetri, M.Pd., Yosa Yulia Nasri, M.Pd., Dr. Zahriyah Simargolang, M.A., dan Syari Yuliana, M.Pd. Mereka melibatkan mahasiswa serta menggandeng Jessy Marantika, S.Pd., dari SLBN 1 Padang Panjang sebagai mitra kegiatan.
Program pengabdian UNP Berdampak ini mendapat respons positif dari siswa dan guru. Pendekatan visual dan praktik langsung dinilai membantu siswa memahami langkah penyelamatan diri saat gempa bumi, banjir, dan letusan gunung api. Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 mengenai pendidikan berkualitas.