SUMATERA BARAT — Ketua Umum APKI Suhendra Wiriadinata menegaskan bahwa masa depan industri pulp dan kertas nasional tidak lagi hanya bergantung pada kapasitas produksi, melainkan pada kemampuan pelaku usaha beradaptasi dengan teknologi dan tuntutan keberlanjutan. "Ke depan, daya saing akan semakin ditentukan oleh adopsi teknologi, efisiensi, dan proses produksi yang berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (22/8/2026).
Pameran ini dinilai krusial bagi industri yang selama ini menjadi salah satu penyumbang devisa negara. Selain memamerkan mesin dan peralatan produksi terbaru, acara ini juga akan menjadi ajang kolaborasi lintas sektor karena digelar bersamaan dengan World Expo of Packaging Industry Southeast Asia (WEPSEA) 2026, Pack Plus Indonesia, dan Bakery ASEAN.
Mengapa Isu Serat Nonkayu Semakin Mendesak?
Salah satu agenda yang paling dinantikan adalah seminar pada 27 Agustus yang secara spesifik membahas pemanfaatan serat panjang nonkayu. Topik ini diangkat di tengah kekhawatiran industri akan ketergantungan pasokan kayu bulat yang semakin terbatas.
Pembahasan dalam seminar tersebut akan menyentuh aspek kebijakan, hasil penelitian, hingga kesiapan teknologi untuk mengolah serat alternatif. Tujuannya jelas: mendorong diversifikasi bahan baku agar ketahanan pasokan industri pulp dan kertas dalam negeri tidak mudah terganggu oleh dinamika pasokan global maupun regulasi lingkungan.
Efisiensi Energi dan Pengelolaan Limbah Jadi Sorotan Utama
Selama tiga hari penyelenggaraan, pengunjung akan disuguhkan ragam teknologi yang tidak hanya berfokus pada peningkatan output. Perhatian besar juga diarahkan pada solusi efisiensi energi serta sistem pengelolaan air dan limbah yang semakin menjadi prasyarat untuk menembus pasar ekspor.
Tekanan untuk mengurangi dampak lingkungan datang dari dua arah: regulasi domestik yang semakin ketat dan permintaan konsumen global yang menginginkan produk ramah lingkungan. Karena itu, pameran ini menjadi barometer bagi pelaku usaha untuk mengukur sejauh mana kesiapan mereka berinvestasi pada peralatan produksi yang lebih bersih.
Pada hari kedua, 28 Agustus, rangkaian acara akan diisi dengan Technical Training Session. Sesi ini dirancang lebih mendalam untuk membahas teknologi pendukung proses produksi, mulai dari peningkatan kualitas output, optimalisasi kinerja operasional, hingga strategi pengelolaan sumber daya yang lebih efektif.
Peluang bagi Industri Hilir Kemasan
Dari sisi hilir, WEPSEA 2026 yang berjalan berbarengan akan menghadirkan pelaku usaha dari segmen kemasan bergelombang, karton lipat, hingga percetakan digital. Ini menjadi sinyal bahwa transformasi tidak hanya terjadi di hulu, tetapi juga di sektor pengemasan yang tengah bertumbuh seiring perubahan pola belanja masyarakat.
Bagi pelaku bisnis, ajang ini adalah kesempatan untuk membaca tren kebutuhan pasar Asia Tenggara secara langsung. Inovasi di sektor kemasan pangan dan teknologi pengubahan bentuk diprediksi menjadi primadona, sejalan dengan meningkatnya permintaan akan solusi pengemasan yang praktis namun tetap berkelanjutan.
Dengan total rangkaian acara yang padat, Paper Chain Expo 2026 diharapkan mampu menjadi katalis bagi percepatan transformasi industri. Para pelaku usaha yang tidak berpartisipasi berisiko tertinggal dalam adopsi teknologi yang kini menjadi faktor penentu utama daya saing di pasar global.