SIJUNJUNG — Aktivitas di kompleks pendidikan Sekolah Akhlak Cendekia Muslim, Jalan Cendekia Muslim, berlangsung berbeda dari biasanya pada Sabtu pagi. Sejak pukul 07.30 WIB, derap langkah ratusan santri memenuhi area sekolah untuk mengikuti agenda yang telah dinantikan: ekstrakurikuler wajib pekanan.
Melalui program yang digagas Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim ini, hari Sabtu di sekolah tersebut tidak dimaknai sebagai hari istirahat, melainkan ruang eksplorasi potensi diri. Kegiatan menyasar seluruh jenjang, dari TK B, SD, hingga SMP, dengan fokus penguatan karakter fisik dan mental.
Santri TK B: Fondasi Percaya Diri dan Kemandirian
Di aula terbuka, para santri TK B menjadi perhatian. Meski usia mereka masih dini, antusiasme mengikuti kepanduan tingkat mula terlihat jelas. Di bawah bimbingan ustadzah, mereka diajak bermain sambil belajar nilai-nilai kedisiplinan.
Simulasi baris-berbaris sederhana, permainan ketangkasan, dan lagu motivasi menjadi media pembelajaran. Narasi yang dibangun para pendidik di lapangan menekankan pentingnya fisik kuat dan hati berani sejak kecil. Aktivitas ini juga menanamkan bahwa sekolah adalah tempat bertumbuh yang menyenangkan.
SD: Melatih Kerja Sama Tim dan Jiwa Kepemimpinan
Suasana berbeda terlihat di lapangan utama dan taman sekolah. Para santri SD kelas 1 hingga kelas 6 dibagi dalam beberapa kelompok berdasarkan usia. Materi yang diberikan lebih intensif, meliputi Peraturan Baris Berbaris (PBB), teknik kepanduan dasar seperti tali-temali, hingga permainan edukatif yang membutuhkan strategi kelompok.
Di bawah terik matahari, para siswa tampak disiplin mengikuti instruksi pelatih. Yel-yel penyemangat menggema di seluruh area sekolah. Manajemen sekolah meyakini latihan fisik terukur ini akan meningkatkan daya tahan tubuh, yang berdampak pada konsentrasi belajar di kelas pada hari efektif.
Interaksi lintas kelas juga menjadi nilai tambah. Santri kelas tinggi belajar mengayomi adik kelasnya, sementara yang lebih muda belajar meneladani kakak kelasnya. Hal ini dinilai efektif membangun ukhuwah Islamiyah yang kuat.
SMP: Mematangkan Jati Diri sebagai Penggerak
Level tantangan lebih tinggi dijalani santri SMP. Bagi mereka, Sabtu adalah waktu mematangkan jati diri sebagai "Nashir" atau penggerak. Materi tidak hanya berpusat pada ketangkasan fisik, tetapi juga pengasahan soft skills.
Pendalaman teknik kepanduan tingkat lanjut, manajemen organisasi, hingga kelas public speaking di alam terbuka menjadi materi unggulan. Para remaja ini dilatih mengambil keputusan dalam simulasi darurat, memimpin barisan, serta menyampaikan gagasan secara sistematis di hadapan rekan-rekannya.
Prinsip kemandirian menjadi narasi utama di jenjang ini. Santri didorong mengelola kegiatan mereka sendiri dengan supervisi minimal dari ustadz pendamping. Targetnya, saat lulus nanti mereka tidak hanya unggul secara akademis, tetapi siap menjadi pemimpin di tengah masyarakat Sijunjung dengan bekal akhlak yang kokoh.
Seluruh rangkaian kegiatan didukung fasilitas yang tersedia di lingkungan sekolah. Aula terbuka, lapangan luas, dan suasana asri memberikan ruang gerak bagi para santri untuk bereksplorasi.