SUMATERA BARAT — Boston Scientific, perusahaan alat medis yang berbasis di Massachusetts, Amerika Serikat, melaporkan gangguan sistem TI berskala global akibat serangan siber. Dalam pengajuan resmi ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) pada Rabu (9/4), perusahaan mengakui mengalami "gangguan dan pembatasan akses" terhadap sistem IT dan aplikasi bisnis yang krusial untuk operasional.
Dampak paling terasa saat ini adalah terganggunya proses pengiriman dan pemrosesan pesanan. Namun, perusahaan belum memberikan pernyataan resmi mengenai apakah serangan ini turut memengaruhi perangkat medis yang sudah tertanam di tubuh pasien, seperti pacemaker atau defibrillator.
Belum Ada Kepastian soal Dampak ke Pasien
Juru bicara Boston Scientific, Chanel Hastings, hanya merujuk pada pernyataan resmi perusahaan ketika dikonfirmasi TechCrunch. Hastings tidak menjawab pertanyaan spesifik mengenai apakah pasien terdampak, langkah yang perlu diambil pasien, maupun detail teknis insiden tersebut.
Ketidakjelasan ini menjadi perhatian serius mengingat skala operasi Boston Scientific. Berdasarkan data di situs resminya, perusahaan menangani sekitar 48 juta pasien setiap tahunnya. Belum ada pula informasi mengenai timeline pemulihan sistem, karena investigasi internal masih berjalan.
Karyawan di Irlandia Dikirim Pulang
Media lokal Irlandia melaporkan ribuan karyawan di kampus Boston Scientific di Cork dipulangkan pada Selasa (8/4) setelah komunikasi jaringan terputus di seluruh perusahaan. Langkah ini diambil sebagai antisipasi untuk membatasi penyebaran dampak serangan.
Hingga kini, penyebab pasti serangan siber tersebut belum diumumkan. Namun, catatan infrastruktur publik menunjukkan Boston Scientific banyak mengandalkan layanan Microsoft dan Amazon Web Services (AWS) untuk infrastruktur korporatnya.
Rentetan Serangan ke Perusahaan Alat Medis
Insiden ini menambah daftar panjang serangan siber ke perusahaan teknologi kesehatan pada tahun ini. Sebelumnya, Abbott Laboratories dan Medtronic, dua produsen alat medis besar, juga menjadi korban. Pada awal tahun, serangan yang diduga dilakukan peretas yang didukung Iran menargetkan Stryker, produsen alat medis AS lainnya. Dalam kasus Stryker, peretas memanfaatkan portal manajemen perangkat terpusat Microsoft untuk menghapus puluhan ribu perangkat karyawan dari jarak jauh.
Bagi pengguna perangkat Boston Scientific di Indonesia, belum ada informasi resmi mengenai dampak langsung serangan ini. Namun, gangguan pada sistem pemrosesan pesanan berpotensi menunda distribusi produk ke berbagai pasar, termasuk Asia Tenggara. Perusahaan diimbau untuk segera merilis pernyataan resmi yang lebih transparan mengenai status keamanan data pasien dan langkah mitigasi yang diambil.