Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasaman Barat menyatakan kualitas udara di Simpang Empat masuk kategori tidak sehat berdasarkan hasil pengujian Laboratorium Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. Pengujian pada 10-11 September 2026 itu menemukan parameter PM2,5 sebagai polutan dominan akibat kabut asap yang melanda daerah tersebut.
SIMPANG EMPAT — Pelaksana tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pasaman Barat, Afkar, menyebut pengujian dilakukan di depan Kantor Bupati Pasaman Barat. Dari tiga parameter yang diuji, hanya PM2,5 yang berada dalam kondisi tidak sehat.
Dua parameter lain, sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen dioksida (NO2), tercatat dalam kondisi baik. Namun PM2,5 atau partikel udara berukuran sangat kecil menjadi penentu status Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di wilayah itu.
"Berdasarkan parameter PM2,5 atau partikel udara yang berukuran sangat kecil maka Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tidak sehat," kata Afkar di Simpang Empat, Selasa.
Mengapa PM2,5 Jadi Penentu Status Udara Tidak Sehat
PM2,5 adalah partikel berukuran sangat kecil yang bisa masuk jauh ke saluran pernapasan. Dalam pengujian 10-11 September 2026, parameter inilah yang angkanya melampaui ambang batas sehat.
SO2 merupakan gas tak berwarna dengan bau menyengat, sedangkan NO2 adalah gas beracun berwarna coklat kemerahan dengan bau tajam. Keduanya lazim jadi polutan udara akibat pembakaran bahan bakar fosil.
"Dengan parameter dominan PM2,5 maka kualitas udara tidak sehat," ujar dia.
Imbauan Larangan Membakar Lahan dan Hutan
DLH Pasaman Barat telah memberikan imbauan dan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membakar lahan dan hutan. Langkah itu diambil supaya kualitas udara tidak semakin memburuk.
Dinas Kesehatan bersama Palang Merah Indonesia Pasaman Barat juga membagikan masker kepada warga. Pembagian masker menyasar masyarakat yang terdampak kabut asap di Simpang Empat dan sekitarnya.
"Pemkab Pasaman Barat juga telah memberikan himbauan kepada masyarakat agar tidak membakar hutan dan lahan serta pemicu kebakaran lainnya," sebutnya.
Kabut Asap Masih Selimuti Pasaman Barat
Kabut asap yang melanda Pasaman Barat menjadi pemicu utama memburuknya kualitas udara. DLH mencatat kondisi ini berdasarkan pengujian laboratorium kesehatan provinsi, bukan sekadar pengamatan visual.
Warga diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan selama kualitas udara belum kembali normal. Masker yang dibagikan diharapkan menekan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Pemkab Pasaman Barat menegaskan akan terus memantau perkembangan kualitas udara. Pembakaran lahan dan hutan menjadi perhatian utama karena berkontribusi langsung terhadap tingginya kadar PM2,5 di udara.