PADANG — Perahu-perahu nelayan kini terdampar di atas hamparan lumpur di banjir kanal Air Tawar. Lumpur yang mengeras dan menggunung di badan sungai membuat perahu tidak bisa mencapai laut lepas. Sejumlah nelayan terpaksa memperbaiki perahunya di atas sungai yang dangkal, seperti terlihat pada Senin (15/6/2026).
Dampak Banjir Bandang yang Belum Pulih
Banjir bandang yang melanda Padang tujuh bulan lalu meninggalkan warisan berupa sedimentasi masif di aliran sungai. Material lumpur dan pasir tidak hanya mengendap di tepi, tetapi juga membentuk gundukan di tengah sungai. Kondisi ini membuat kedalaman air tidak lagi cukup untuk dilintasi perahu nelayan.
"Kami sudah tujuh bulan kesulitan. Sebelum banjir, perahu bisa langsung meluncur ke laut. Sekarang harus didorong dulu karena airnya dangkal," ujar seorang nelayan setempat yang enggan disebutkan namanya.
Aktivitas Melaut Terganggu, Penghasilan Menurun
Pendangkalan sungai memaksa nelayan mengubah kebiasaan melaut. Mereka harus menunggu air pasang tinggi atau mendorong perahu secara manual melewati bagian sungai yang dangkal. Waktu yang terbuang dan tenaga ekstra membuat hasil tangkapan menurun drastis.
Beberapa nelayan memilih tidak melaut sama sekali karena risiko kerusakan perahu akibat gesekan dengan lumpur. Perbaikan perahu di atas sungai yang kering menjadi pemandangan sehari-hari di bantaran banjir kanal Air Tawar.
Belum Ada Tindakan dari Pemkot Padang
Hingga berita ini diturunkan, belum ada langkah konkret dari Pemerintah Kota Padang untuk menormalisasi sungai di kawasan tersebut. Padahal, sedimentasi lumpur terus mengeras dan semakin mempersempit aliran air. Nelayan berharap ada pengerukan segera agar aktivitas melaut bisa kembali normal.
Pewarta: Fitra Yogi | Uploader: Laras Robert