SUMATERA BARAT — Pegadaian hari ini merilis daftar harga emas untuk tiga merek utama: Antam, UBS, dan Galeri24. Tidak ada satupun yang berubah dibandingkan Selasa (16/6/2026). Produk termurah masih dipegang oleh Galeri24 ukuran 0,5 gram seharga Rp 1.425.000, sementara termahal adalah emas Antam 100 gram yang dibanderol Rp 277,797 juta.
Perbandingan Harga Antam, UBS, dan Galeri24
Untuk ukuran 1 gram, harga Antam berada di Rp 2.839.000, lebih mahal dibandingkan UBS Rp 2.737.000 dan Galeri24 Rp 2.718.000. Selisih harga antar merek ini cukup konsisten di semua bobot, mencerminkan perbedaan biaya produksi dan premium merek. Pada bobot 10 gram, misalnya, Antam dijual Rp 27,857 juta, sedangkan Galeri24 hanya Rp 26,58 juta.
UBS unggul dalam variasi ukuran besar. Mereka menyediakan emas 250 gram seharga Rp 664,407 juta dan 500 gram Rp 1,327 miliar. Galeri24 bahkan memiliki produk 1.000 gram dengan harga Rp 2,633 miliar, pilihan paling besar di antara ketiganya.
Apa yang Membuat Harga Emas Bisa Bergerak?
Stagnasi hari ini tak lepas dari faktor eksternal. Emas diperdagangkan dalam dolar AS, sehingga penguatan greenback membuat logam mulia lebih mahal bagi pembeli non-dollar. Sebaliknya, pelemahan dolar bisa mendorong harga naik. Selain itu, kebijakan suku bunga The Fed menjadi penentu utama: kenaikan suku bunga biasanya menekan harga emas karena investor beralih ke deposito dan obligasi.
Inflasi juga ikut bermain. Ketika harga-harga naik, emas kerap diburu sebagai aset lindung nilai. Namun, jika ekonomi global membaik dan inflasi stabil, minat terhadap emas bisa berkurang. Kondisi geopolitik yang tidak menentu, seperti konflik bersenjata, justru mendorong investor mencari safe haven dan membuat harga emas melonjak.
Pasokan Tambang dan Permintaan Bank Sentral
Di sisi produksi, negara-negara seperti Tiongkok, Australia, dan Rusia menjadi pemasok utama emas dunia. Jika biaya tambang naik atau cadangan menipis, harga jual global akan terdorong naik. Di sisi lain, bank sentral di berbagai negara terus mengakumulasi emas sebagai cadangan devisa, menjaga permintaan tetap tinggi.
Harga minyak dunia juga memberi efek tidak langsung. Kenaikan minyak memicu inflasi karena biaya produksi dan transportasi membengkak, yang pada akhirnya meningkatkan permintaan emas sebagai lindung nilai. Untuk saat ini, pasar masih wait and see menunggu data ekonomi AS pekan depan.