SUMATERA BARAT — Harga emas spot ditutup di US$3.998,5 per troy ons, anjlok dari posisi akhir pekan lalu. Ini menjadi koreksi harian terdalam dalam beberapa bulan terakhir. Logam mulia yang biasanya menjadi aset safe haven justru tertekan oleh ketegangan geopolitik yang meningkat.
Blokade Laut dan Ancaman Tarif Trump
Pusat Komando AS mengumumkan akan memperketat blokade jalur pelayaran di seluruh pelabuhan Iran. Langkah ini langsung disusul pernyataan kontroversial Presiden Donald Trump di media sosial.
"AS akan, sejak saat ini, dikenal sebagai PENJAGA SELAT HORMUZ. Namun demi KEADILAN, akan dibayar 20% dari nilai kargo yang dikirimkan. Ini adalah biaya yang diperlukan untuk menyediakan keamanan," cuit Trump.
Mengapa Emas Justru Turun di Tengah Konflik?
Biasanya, ketegangan geopolitik mendorong investor memburu emas sebagai lindung nilai. Namun kali ini berbeda. Pasar justru bereaksi terhadap potensi gangguan rantai pasok minyak global yang bisa memicu inflasi lebih tinggi.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS dan ekspektasi suku bunga yang lebih ketat menjadi tekanan tambahan bagi emas. Investor cenderung melepas kepemilikan logam mulia dan beralih ke dolar AS sebagai respons atas ketidakpastian di Timur Tengah.
Prospek Jangka Pendek: Volatilitas Masih Tinggi
Analis memperkirakan harga emas masih akan bergerak fluktuatif dalam beberapa hari ke depan. Level support terdekat berada di US$3.950 per troy ons. Jika konflik mereda, harga berpotensi rebound ke US$4.050.
Sebaliknya, jika AS benar-benar memberlakukan tarif 20% atas kargo yang melintasi Selat Hormuz, tekanan jual bisa berlanjut. Investor disarankan mencermati perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran.
Investasi mengandung risiko.