Pencarian

Bill Ford Pilih Head-to-Head dengan China Daripada Larangan Permanen, Ini Alasannya

Jumat, 17 Juli 2026 • 10:21:31 WIB
Bill Ford Pilih Head-to-Head dengan China Daripada Larangan Permanen, Ini Alasannya
Bill Ford menyatakan industri otomotif AS harus bersaing langsung dengan China, bukan mengandalkan larangan permanen.

SUMATERA BARAT — Pernyataan Bill Ford di acara Axios di Washington DC, Selasa lalu, memecah kebuntuan narasi di industri otomotif Amerika. Di tengah hiruk-pikuk usulan pelarangan total mobil China masuk AS—yang didukung oleh asosiasi industri Alliance for Automotive Innovation (AAI)—Ford justru bicara sebaliknya. "Kita harus berhadapan langsung dengan China. Kita tidak bisa berharap mereka dijauhkan selamanya. Kita harus mampu mengalahkan mereka di permainan mereka sendiri," ujarnya, dikutip dari The Wall Street Journal.

Sikap ini kontras dengan CEO Ford, Jim Farley, yang pada April lalu menyatakan "kita tidak boleh membiarkan mereka masuk ke negara kita" saat berbicara dengan Fox News. Farley khawatir subsidi besar dari pemerintah China membuat persaingan tidak adil. Namun Bill Ford melihat ancaman itu sebagai panggilan untuk berinovasi, bukan bersembunyi di balik tembok regulasi.

Tekanan dari Kongres dan Lobi Industri

AAI, tempat Ford bernaung, secara aktif mendorong Connected Vehicle Security Act yang diajukan Senator Bernie Moreno dan Elissa Slotkin. RUU ini bertujuan melarang mobil buatan China serta teknologinya beroperasi di Amerika Serikat. "Kami perlu memastikan semua bermain dengan aturan yang sama, tapi pabrikan China membanjiri pasar global dengan kendaraan murah," kata John Bozzella, Presiden dan CEO AAI, dalam pernyataan resmi.

Ironisnya, Bill Ford justru meminta pendekatan yang lebih tahan banting secara politik. "Lead time kami lebih panjang dari lead time politik. Kebijakan industri yang bipartisan—meski saat ini terdengar sulit—sangat kami butuhkan," tambahnya. Ini menjadi pengakuan bahwa strategi jangka pendek berbasis larangan bisa runtuh seiring pergantian rezim di Gedung Putih.

Mobil China Sudah Masuk Lewat Jalur Samping

Faktanya, mobil dengan keterkaitan China sudah beredar di AS. Volvo, yang dimiliki konglomerat China Geely, baru saja mendapat izin dari Departemen Perdagangan untuk terus berbisnis. Namun Polestar, saudara sekandungnya, justru bernasib sial. Lincoln Nautilus juga masih dijual di AS meski diproduksi di China.

Di Meksiko dan Kanada, mobil listrik China sudah diterima dengan aturan kuota impor terbatas. Ini menunjukkan bahwa tembok perdagangan punya celah. Bill Ford sepertinya sadar bahwa lebih baik mempersiapkan diri dari sekarang daripada kaget saat pintu benar-benar terbuka.

Pikap Listrik Rp 480 Juta Jadi Senjata

Ford tidak hanya bicara. Perusahaan sudah menyiapkan amunisi berupa pikap listrik seharga sekitar USD 30.000 atau setara Rp 480 juta (kurs Rp 16.000). Langkah ini sangat khas Ford: menjawab tantangan dengan kendaraan kerja yang ikonik. Bukan hanya Ford, startup Slate juga merancang kendaraan yang lebih kecil dan lebih murah untuk segmen yang sama.

Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah pabrikan China akan masuk ke AS, melainkan kapan. Bill Ford memilih untuk bersiap, bukan bersembunyi. Pendekatan ini mungkin tidak populer di kalangan pelobi, tapi bisa jadi satu-satunya strategi yang bertahan lama.

Bagikan
Sumber: thedrive.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks