Pencarian

Insentif Mobil Listrik China Dihapus Bertahap: Pajak Baterai Naik, Harga EV Berpotensi Ikut Melonjak

Senin, 07 September 2026 • 16:34:31 WIB
Insentif Mobil Listrik China Dihapus Bertahap: Pajak Baterai Naik, Harga EV Berpotensi Ikut Melonjak
Petugas menunjukkan baterai lithium-ion pada kendaraan listrik di sebuah pameran otomotif di China.

SUMATERA BARAT — Kabar ini bukan soal peluncuran mobil baru, melainkan arah kebijakan yang bakal mengubah peta harga EV global. Tiongkok selama ini menjadi raksasa produksi baterai dan mobil listrik, dan setiap perubahan kebijakan di sana punya efek domino ke pasar otomotif dunia, termasuk Indonesia yang banyak mengimpor model EV dari pabrikan China.

Pajak Baterai Lithium Naik: Tambahan Biaya Mulai Rp1 Jutaan

Per 1 September 2026, baterai primer lithium dan baterai lithium-ion resmi dikenakan pajak konsumsi sebesar 2 persen. Angka ini akan naik lagi menjadi 4 persen pada September 2027, mengakhiri masa bebas pajak yang sudah dinikmati industri baterai China selama lebih dari satu dekade.

Untuk mobil dengan baterai kapasitas 60 kWh — ukuran yang umum dipakai mobil listrik menengah — pajak 2 persen berarti tambahan biaya sekitar 438 yuan atau setara Rp1 jutaan. Ketika tarif naik ke 4 persen, bebannya berlipat menjadi sekitar 876 yuan per unit.

Diskon Pajak Pembelian Dipangkas: Efektif 5 Persen per 2026

Insentif di sektor hilir juga mulai dikurangi. Sejak awal 2026, pembebasan pajak pembelian untuk kendaraan energi baru (NEV) hanya mendapat potongan 50 persen, sehingga tarif efektif yang harus dibayar konsumen menjadi 5 persen dengan batas maksimal pengurangan 15.000 yuan per kendaraan.

Perubahan ini langsung terasa di kantong pembeli. Mobil listrik yang tadinya bebas pajak pembelian kini harus dihitung ulang total biayanya, dan batas diskon 15.000 yuan berarti keuntungan terbesar hanya dinikmati kendaraan dengan harga jual di bawah kisaran tertentu.

Insentif yang Berakhir 2027: PHEV dan Range Extender Terdampak

Tahap selanjutnya lebih agresif. Mulai 2027, keringanan pajak kendaraan dan kapal untuk model plug-in hybrid (PHEV), range extender, dan sebagian kendaraan komersial listrik resmi dihentikan. Ini sinyal jelas bahwa pemerintah China menilai teknologi tersebut sudah cukup matang untuk bersaing tanpa bantuan.

Dukungan Infrastruktur Tetap Lanjut

Meski insentif pembelian dipangkas, pemerintah China tidak menarik seluruh dukungannya. Infrastruktur pengisian daya dan fasilitas penukaran baterai justru tetap mendapat prioritas. Artinya, fokus kebijakan bergeser dari mengejar volume penjualan ke penguatan ekosistem pendukung.

Dampak untuk Industri dan Konsumen

Kebijakan ini menandai transisi industri otomotif China dari fase pertumbuhan yang disubsidi menuju persaingan berbasis teknologi, efisiensi produksi, dan harga. Produsen yang selama ini bergantung pada insentif akan tertekan, sementara pemain dengan skala ekonomi besar dan teknologi baterai efisien justru bisa memperkuat dominasi.

Bagi konsumen, konsekuensinya cukup jelas: harga EV di pasar domestik China berpotensi naik dalam dua tahun ke depan. Dan karena banyak merek China mengekspor ke Indonesia, bukan tidak mungkin sebagian biaya tambahan ini ikut terbawa ke pasar lokal — tergantung bagaimana pabrikan menyerap margin atau melakukan efisiensi di lini produksi.

Catatan untuk Pembeli EV di Indonesia

Belum ada konfirmasi resmi apakah kenaikan biaya ini akan memengaruhi harga jual di Indonesia. Namun pola tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa penyesuaian biaya produksi di China kerap berujung pada

Follow sumbar360.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: rockomotif.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks