PADANG PARIAMAN — Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis menegaskan bahwa ketangguhan menghadapi bencana harus dimulai dari unit terkecil masyarakat, yakni keluarga. Dalam konteks ini, perempuan memegang peran ganda sebagai pendidik pertama anak sekaligus pengambil keputusan saat situasi darurat.
"Melalui BUNTANA, kita ingin melahirkan perempuan-perempuan tangguh yang mampu menjadi pelopor kesiapsiagaan bencana di tingkat keluarga dan masyarakat," kata John Kenedy Azis dalam sambutannya.
Program yang digagas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) ini lahir dari evaluasi atas rentetan bencana yang melanda Padang Pariaman sepanjang 2025. Mulai dari banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, hingga pohon tumbang menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah.
Tiga Tokoh Perempuan Dikukuhkan Sebagai Pengurus BUNTANA
Pada kesempatan tersebut, Pemkab Padang Pariaman mengukuhkan tiga tokoh perempuan sebagai pengurus inti. Mereka adalah Ny. Nita Christanti Azis dari TP-PKK Kabupaten Padang Pariaman, Ny. Resty Yulandari Rahmat dari Gabungan Organisasi Wanita (GOW), dan Ny. Reni Hendra Aswara dari Dharma Wanita Persatuan (DWP).
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Padang Pariaman Emri Nurman menjelaskan, BUNTANA dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan teknis perempuan dalam mitigasi serta penanggulangan bencana.
"Kesiapsiagaan harus menjadi budaya bersama. Perempuan memiliki posisi strategis untuk menanamkan pengetahuan dan perilaku siaga bencana di lingkungan keluarga," ujarnya.
Pembekalan dari BMKG dan KOGAMI: dari Hidrometeorologi hingga Gempa
Kegiatan sosialisasi ini menghadirkan dua narasumber kunci. Supriyadi, S.Tr., Geof. dari BMKG Stasiun Geofisika Padang Panjang memberikan materi mengenai pengenalan ancaman hidrometeorologi dan gempa bumi. Sementara itu, Patra Rina Dewi, S.Si., M.Sc. dari Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI) Sumatera Barat memaparkan langkah-langkah praktis kesiapsiagaan yang bisa diterapkan langsung oleh masyarakat.
Materi tersebut dinilai krusial mengingat posisi geografis Padang Pariaman yang berada di pesisir pantai barat Sumatera, berhadapan langsung dengan zona subduksi yang berpotensi memicu gempa besar dan tsunami.
Sinergi Forkopimda dan Perangkat Daerah Perkuat Program
Acara pengukuhan turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), staf ahli dan asisten Sekretariat Daerah, serta kepala perangkat daerah. Kehadiran mereka menjadi penegasan komitmen bersama untuk memperkuat budaya sadar bencana melalui pemberdayaan perempuan sebagai pilar utama ketahanan keluarga.
Dengan adanya BUNTANA, diharapkan setiap nagari di Padang Pariaman nantinya memiliki kader perempuan yang mampu mengedukasi warga, menyusun rencana evakuasi mandiri, hingga menjadi penghubung antara masyarakat dan BPBD saat terjadi bencana.