PADANG — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumatera Barat mencatat total penyaluran kredit dan pembiayaan perbankan di provinsi ini mencapai Rp 77,70 triliun hingga Juni 2026. Angka tersebut tumbuh 5,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala OJK Sumatera Barat Roni Nazra menyebutkan, dari total penyaluran tersebut, sebanyak Rp 31,17 triliun atau sekitar 40,11 persen mengalir ke sektor UMKM. Kendati porsinya masih dominan, penyaluran kredit ke sektor ini justru mengalami kontraksi 1,44 persen secara tahunan.
Kontraksi Kredit UMKM dan Upaya Perkuatan Pembiayaan
Roni mengatakan, perlambatan penyaluran kredit ke UMKM menjadi perhatian serius dalam pengembangan sektor usaha kecil di Sumatera Barat. Menurutnya, akses pembiayaan perlu terus diperkuat agar pelaku usaha mampu meningkatkan kapasitas produksi dan mengembangkan usahanya.
“Pembiayaan kepada UMKM harus terus didorong karena sektor ini memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian daerah dan membuka lapangan kerja,” ujarnya, Senin (10/8/2026).
OJK menilai penguatan akses modal ini harus dibarengi dengan peningkatan literasi dan kapasitas pelaku usaha. Dengan begitu, kredit yang diterima tidak hanya meningkatkan skala usaha, tetapi juga dikelola secara sehat dan berkelanjutan.
Perbankan Syariah dan BPR Jadi Penopang Pembiayaan UMKM
Selain perbankan konvensional, penyaluran kredit ke UMKM juga ditopang oleh perbankan syariah dan Bank Perekonomian Rakyat (BPR). Hingga Juni 2026, perbankan syariah Sumatera Barat membukukan total pembiayaan Rp 13,27 triliun, tumbuh 16,22 persen secara tahunan.
Sementara itu, BPR mencatat penyaluran kredit dan pembiayaan sebesar Rp 2,27 triliun. Dari jumlah tersebut, 71,15 persen di antaranya disalurkan kepada pelaku UMKM.
“Ini menunjukkan bahwa akses pembiayaan UMKM tidak hanya berasal dari perbankan umum, tetapi juga dari perbankan syariah dan BPR,” kata Roni.
Kinerja Perbankan Sumbar Masih Tumbuh, NPL Terjaga
Di tengah kontraksi kredit UMKM, kinerja perbankan Sumatera Barat secara umum masih menunjukkan pertumbuhan positif. Total aset perbankan pada Juni 2026 tercatat Rp 88,20 triliun, tumbuh 4,72 persen secara tahunan.
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat signifikan, mencapai Rp 65,55 triliun atau tumbuh 13,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan.
Rasio risiko kredit atau non-performing loan (NPL) tercatat sebesar 2,87 persen. Meski naik dari 2,65 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya, angka tersebut dinilai masih dalam kondisi terkendali.
OJK memastikan akan terus mendorong industri perbankan menyalurkan pembiayaan secara sehat, termasuk ke sektor UMKM, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian agar pertumbuhan kredit berjalan beriringan dengan kualitas pembiayaan.
Secara keseluruhan, sektor jasa keuangan Sumatera Barat hingga Semester I 2026 dinilai masih terjaga dan turut menopang pertumbuhan ekonomi daerah. Perekonomian Sumatera Barat pada triwulan II 2026 tercatat tumbuh 4,54 persen secara tahunan.