PADANG — Aktivitas menyeberangi sungai menggunakan sepeda motor menjadi pemandangan sehari-hari di Kampung Tanjung, Kuranji, Padang, Sumatera Barat. Warga tidak punya pilihan lain setelah jembatan utama yang menghubungkan permukiman mereka dengan pusat kota ditutup untuk perbaikan.
Pantauan di lokasi, Selasa (11/8/2026), warga dengan hati-hati melintasi aliran Batang Belimbing. Mereka menyeimbangkan kendaraan di atas bebatuan yang sebagian muncul ke permukaan air. Sebagian warga lainnya memilih berjalan kaki sambil menenteng barang bawaan.
Jalan Alternatif Terlalu Jauh, Warga Pilih Risiko
Keputusan nekat ini bukan tanpa alasan. Jalan alternatif yang disediakan mengharuskan warga memutar hingga beberapa kilometer lebih jauh. Bagi warga yang bekerja sebagai buruh harian atau pedagang, waktu tempuh yang panjang berarti pengurangan pendapatan.
“Daripada jauh, lebih baik lewat sini. Sudah biasa, tapi tetap harus hati-hati karena arusnya kadang deras,” ujar seorang warga yang ditemui di lokasi penyeberangan.
Perbaikan Jembatan dan Dampaknya bagi Mobilitas
Perbaikan jembatan yang tengah berlangsung merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota Padang untuk memperbaiki infrastruktur penghubung antarwilayah. Namun, proses pengerjaan ini berdampak langsung pada mobilitas harian warga yang menggantungkan akses utama pada jembatan tersebut.
Belum ada kepastian kapan proses perbaikan jembatan di Kuranji ini akan rampung. Sementara itu, warga harus tetap menjalani aktivitas ekonomi dan sosial mereka dengan segala keterbatasan yang ada.
Keselamatan Warga Jadi Sorotan
Kebiasaan menyeberangi sungai ini tentu menyimpan risiko keselamatan. Arus sungai yang tidak menentu dan kondisi dasar sungai yang licin menjadi ancaman serius, terutama saat debit air meningkat setelah hujan deras di kawasan hulu.
Warga berharap proses pengerjaan jembatan dapat dipercepat. Mereka juga meminta agar pihak terkait menyediakan akses darurat yang lebih aman, seperti jembatan sementara, selama masa pembangunan berlangsung.