SOLOK — Proses pengolahan kacang yang tidak lazim justru menjadi identitas yang membedakan produk UMKM asal Nagari Surian, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Solok ini dari kompetitornya. Alih-alih digoreng dengan minyak, Kacang H. Arifin justru dimasak menggunakan pasir halus yang telah dipanaskan terlebih dahulu di dalam kuali.
Metode yang diwariskan turun-temurun ini menghasilkan tekstur dan cita rasa yang khas, sekaligus menjadi alasan produk tersebut mampu menembus pasar mancanegara. Nama H. Arifin sendiri diambil dari sang kakek pendiri usaha, yang kini telah meninggal dunia dan usahanya diteruskan oleh keluarga besar.
Kenapa Pasir Halus Jadi Kunci Kelezatan?
Gebi Revendi, salah seorang pengelola usaha, menjelaskan bahwa penggunaan pasir halus bukan tanpa alasan. Pasir yang telah dipanaskan berfungsi sebagai media penghantar panas yang merata, sehingga kacang matang sempurna tanpa gosong di satu sisi.
"Pasir terlebih dahulu dipanaskan di dalam kuali. Setelah panas, kacang dimasukkan dan diaduk bersama pasir sampai matang," ujar Gebi kepada Sumbarkita pada Jumat (14/8/2026). Ia menambahkan bahwa setelah matang, kacang dipisahkan dari pasir, didinginkan, lalu disortir sebelum akhirnya dikemas.
Standar Ketat di Balik Setiap Bungkus Kacang
Mempertahankan kualitas adalah harga mati bagi keluarga H. Arifin. Sebelum masuk ke proses pengolahan, setiap butir kacang melewati tahap penyortiran bahan baku yang ketat untuk memastikan hanya kacang terbaik yang sampai ke tangan konsumen.
"Kacang yang kami gunakan harus bersih, tidak busuk, ukurannya sesuai, dan tidak memiliki cangkang yang retak atau pecah," tegas Gebi. Standar ini diyakini menjadi kunci menjaga konsistensi rasa dan tekstur renyah yang selama ini melekat pada produk Kacang H. Arifin.
Dari dapur produksi sederhana di Nagari Surian, produk ini kini melanglang buana. Permintaan tidak hanya datang dari pasar lokal Sumatera Barat, tetapi juga dari konsumen di berbagai daerah di Indonesia hingga pembeli di luar negeri. Hal ini membuktikan bahwa produk UMKM berbasis kearifan lokal memiliki potensi ekspor yang besar jika dikelola dengan konsisten dan menjaga mutu.