PADANG — Ancaman bencana di Sumatera Barat tidak main-main. Daerah ini disebut sebagai laboratorium nyata kebencanaan karena memiliki 13 jenis potensi bencana sekaligus, mulai dari gempa besar yang dipicu megathrust Mentawai, tsunami, hingga longsor dan banjir bandang. Namun, yang menjadi perhatian utama Pemprov Sumbar bukan sekadar daftar ancaman itu, melainkan seberapa siap sistem dan masyarakat menghadapinya.
Megathrust Mentawai dan Pelajaran dari Gempa 2009
Letak geografis Sumbar berada di kawasan tektonik aktif. Di sebelah barat, terdapat zona subduksi megathrust Mentawai yang menyimpan potensi gempa bumi besar dan tsunami. Medi Iswandi mengingatkan bahwa gempa besar yang meluluhlantakkan Sumbar pada 2009 merupakan pelajaran yang tidak boleh dilupakan begitu saja.
"Sumatera Barat dapat dikatakan sebagai laboratorium nyata kebencanaan karena memiliki 13 jenis potensi bencana. Namun yang paling penting bukan hanya memahami ancamannya, melainkan memastikan seluruh unsur siap menghadapinya," ujar Medi di Auditorium Gubernuran, Kamis (11/6/2026).
Empat Langkah Konkret Penguatan Kesiapsiagaan
Pemprov Sumbar tidak tinggal diam. Sejumlah langkah implementasi terus digenjot untuk memperkuat ketahanan daerah terhadap bencana. Upaya tersebut meliputi:
- Memperkuat sistem peringatan dini agar peringatan bisa sampai ke masyarakat lebih cepat dan akurat.
- Mengembangkan nagari tangguh bencana sebagai garda terdepan mitigasi di tingkat desa.
- Menyusun rencana kontingensi tsunami yang detail dan terukur.
- Mendorong integrasi mitigasi bencana ke dalam setiap perencanaan pembangunan daerah.
Tantangan Infrastruktur dan Literasi Masyarakat
Meski berbagai program telah berjalan, Medi mengakui masih ada pekerjaan rumah yang berat. Keterbatasan infrastruktur evakuasi, minimnya literasi kebencanaan di kalangan warga, serta koordinasi antar lembaga yang belum optimal menjadi tantangan utama.
"Masih banyak tantangan yang perlu menjadi perhatian kita bersama, terutama pada aspek penguatan infrastruktur dan literasi masyarakat. Oleh karena itu, ini perlu dukungan banyak pihak, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata," tegas Medi.
TNI sebagai Mitra Strategis Membangun Budaya Siaga
Dalam forum yang dihadiri Komandan Sesko TNI Marsekal Madya TNI Arif Widianto tersebut, Medi menekankan pentingnya peran TNI. Menurutnya, TNI tidak hanya dibutuhkan saat tanggap darurat, tetapi juga dalam membangun budaya siaga melalui edukasi, pelatihan, dan simulasi kebencanaan di tengah masyarakat.
Kegiatan KKDN Sesko TNI dinilai menjadi ruang strategis untuk menghubungkan kebijakan nasional dengan implementasi di daerah. Hasil kajian para perwira siswa diharapkan bisa menjadi referensi untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan, baik di Sumbar maupun secara nasional.