PARIK MALINTANG — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) telah memulai normalisasi aliran Sungai Batang Anai di Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman. Progres pengerjaan yang berlangsung hampir satu bulan itu kini sudah mencapai 30 persen.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Padang Pariaman, El Abdes Marsyam, mengatakan bencana hidrometeorologi yang melanda akhir tahun lalu membuat aliran sungai tersebut berpindah ke Nagari Anduriang. Perpindahan ini tidak hanya merusak jembatan penghubung antara Nagari Kayu Tanam dan Nagari Anduriang, tetapi juga mengancam lahan dan rumah warga di sekitar bantaran baru.
Warga Minta Aliran Dikembalikan ke Posisi Semula
El Abdes menjelaskan, warga setempat mendesak pemerintah untuk mengembalikan aliran sungai ke posisi asalnya sebelum jembatan darurat dibangun. Sebab, jika aliran tetap berada di Nagari Anduriang, infrastruktur penghubung kedua nagari itu berisiko rusak kembali saat debit air tinggi.
"Sebelumnya bupati telah memerintahkan untuk membangun jembatan darurat di lokasi tersebut, namun warga meminta untuk memindahkan aliran air ke tengah terlebih dahulu," kata El Abdes di Parik Malintang, Kamis.
Rakit Jadi Satu-satunya Alternatif, Bupati Larang
Kondisi darurat memaksa warga menggunakan rakit untuk menyeberangi Sungai Batang Anai. Namun, Bupati Padang Pariaman menilai cara itu terlalu berbahaya. Instruksi tegas pun keluar: tidak boleh ada lagi warga yang hanyut saat menyeberang.
"Pada prinsipnya Pak Bupati meminta rakit ini tidak ada lagi, karena rakit ini dapat membahayakan petugas dan penumpangnya. Pak bupati tidak ingin ada lagi warga yang hanyut saat menyeberangi sungai," tambah El Abdes.
Karena normalisasi sungai bukan kewenangan pemerintah kabupaten, Pemkab Padang Pariaman mengirimkan surat permohonan ke Balai Wilayah Sungai Sumatra V dan Pemprov Sumbar. Permintaan itu langsung disanggupi.
Anggaran Jembatan Permanen Capai Rp42,5 Miliar
Setelah aliran sungai kembali ke posisi semula, Pemkab Padang Pariaman berencana memperbaiki jembatan yang rusak sebagai jembatan darurat. Langkah ini untuk mempermudah mobilitas warga sembari menunggu pembangunan jembatan permanen oleh pemerintah pusat.
Proyek jembatan permanen direncanakan mulai tahun ini dengan nilai anggaran mencapai Rp42,5 miliar. Dengan begitu, akses warga Kayu Tanam dan Anduriang diharapkan kembali normal tanpa harus bergantung pada rakit yang membahayakan keselamatan.