SUMATERA BARAT — Rodrygo, yang kini tengah berada di Amerika Serikat untuk Piala Dunia 2026, menuliskan pengalamannya secara gamblang. Ia mengakui bahwa menjadi bagian dari skuad Brasil di Qatar adalah kenangan yang tak terlupakan. Namun, ia juga ingin publik tahu bahwa ada harga mahal yang harus dibayar untuk sampai ke level itu.
Sarapan hingga Camilan Malam: Semua Terkontrol
Rutinitas pemain di Piala Dunia dimulai sejak pagi. Rodrygo menjelaskan, seluruh pemain wajib berkumpul di restoran untuk sarapan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Menu prasmanan pun tidak sembarangan; ahli gizi tim yang menentukan jenis dan porsi makanan untuk setiap pemain secara personal.
Usai latihan pagi di kompleks akomodasi tim, giliran makan siang yang juga sudah disesuaikan dengan komposisi tubuh dan kebutuhan fisiologis masing-masing atlet. Sore hari diisi dengan sesi gym, pijat pemulihan jika diperlukan, serta rapat taktik dan analisis video lawan.
“Makan malam dihadiri seluruh skuad, ini momen yang lebih santai untuk bermain kartu, biliar, atau domino. Camilan terakhir menutup hari sebelum tidur untuk mengisi ulang energi, lalu mengulangi proses yang sama keesokan harinya,” tulis Rodrygo dalam artikelnya.
Dedikasi Tanpa Henti Melawan Godaan Istirahat
Rodrygo menegaskan bahwa dirinya tidak mengeluh. Ia sadar betul bahwa hidup sebagai pemain profesional bukanlah penderitaan tanpa akhir. Namun, ia ingin menekankan satu hal: berada di tim nasional untuk Piala Dunia adalah hak istimewa yang tidak bisa bertahan tanpa usaha keras.
“Bertahan di level yang dibutuhkan—baik di klub, divisi, atau tim nasional—menuntut kemenangan harian atas keinginan untuk istirahat dan bersantai berkepanjangan,” ujarnya. Ia menambahkan, jika tubuh mulai condong pada kemalasan, pikiran harus menariknya kembali. Jika pikiran mulai lengah, tubuh harus bertahan.
Piala Dunia di AS: Euforia Hanya di Dalam Stadion
Saat ini, Rodrygo tengah menjalani pemulihan cedera lutut kanan dan mengamati perhelatan Piala Dunia dari perspektif berbeda. Ia menyoroti bagaimana turnamen ini berlangsung di Amerika Serikat, sebuah negara yang belakangan menjadi pusat berbagai event sepak bola global, termasuk Copa América 2024 dan Piala Dunia Antarklub 2025.
Namun, menurutnya, frekuensi turnamen tersebut tidak serta merta membuat sepak bola melekat dalam budaya Amerika. “Di luar pusat-pusat keramaian, kehidupan berjalan seperti biasa. Jam buka toko dan museum tidak berubah. Tidak ada euforia besar-besaran,” ungkap Rodrygo.
Ia membandingkannya dengan Brasil, di mana Piala Dunia adalah momen perayaan besar, hari-hari luar biasa, dan penegasan identitas bangsa. “Dan tolong, saya tidak mengatakan ini baik atau buruk. Ini hanya berbeda,” pungkasnya.