PADANG — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sumatera Barat melaporkan stabilitas harga di wilayah ini tetap terjaga meski terdapat tekanan konsumsi setelah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri. Angka inflasi tahunan (yoy) sebesar 1,97 persen tersebut menempatkan Sumbar dalam koridor target nasional 2,5±1 persen.
Kepala KPwBI Sumatera Barat, M. Abdul Madjid Ikram, menyebutkan bahwa terkendalinya inflasi didorong oleh meredanya harga pada kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food). Sinergi antara pemerintah daerah dan instansi terkait dalam menjaga pasokan mulai memberikan dampak nyata pada daya beli masyarakat.
Dharmasraya Catat Inflasi Tertinggi, Pasaman Barat Deflasi
Meskipun secara provinsi angka inflasi terkendali, potret di tingkat kabupaten dan kota menunjukkan dinamika yang beragam. Kabupaten Dharmasraya tercatat mengalami inflasi bulanan (mtm) tertinggi di Sumatera Barat pada April 2026 dengan angka 0,67 persen.
Kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Pasaman Barat yang justru mengalami deflasi sebesar 0,02 persen. Sementara itu, dua kota utama yakni Padang dan Bukittinggi menunjukkan pergerakan harga yang identik dengan catatan inflasi masing-masing sebesar 0,51 persen pada periode yang sama.
Pemicu Kenaikan Harga: Tiket Pesawat hingga Jengkol
Secara bulanan, Sumbar mengalami inflasi 0,39 persen pada April 2026, meningkat dari bulan sebelumnya yang hanya 0,04 persen. Kenaikan ini dipicu oleh berakhirnya masa diskon tiket transportasi udara serta penyesuaian harga komoditas global.
Beberapa komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi bulanan meliputi:
- Tarif transportasi udara
- Bawang merah
- Minyak goreng
- Jengkol dan kentang
- Makanan jadi (nasi lauk)
“Tarif pesawat mengalami kenaikan seiring berakhirnya masa diskon tiket dan penyesuaian harga. Selain itu, meningkatnya permintaan juga ikut mendorong naiknya harga sejumlah bahan pangan,” ujar Madjid dalam keterangan resminya, Selasa (5/5/2026).
Pasokan Melimpah, Harga Cabai Merah Anjlok 13 Persen
Tekanan inflasi di Sumatera Barat berhasil diredam oleh penurunan harga signifikan pada komoditas cabai. Melimpahnya pasokan dari hasil panen lokal maupun kiriman daerah tetangga membuat harga cabai rawit turun tajam sebesar 21,13 persen (mtm).
Komoditas cabai merah juga mengalami penurunan harga sebesar 13,55 persen. Selain kelompok sayuran, harga emas perhiasan dan daging ayam ras turut melandai seiring membaiknya distribusi pasokan dan pengaruh pelemahan harga di pasar global.
Ke depan, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat langkah antisipasi melalui operasi pasar dan gerakan pangan murah. Madjid menekankan pentingnya mewaspadai gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem dan fluktuasi nilai tukar yang berpotensi memicu inflasi dari barang impor.
“Sinergi akan terus ditingkatkan agar inflasi tetap terkendali sesuai target, sekaligus menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi daerah,” tegas Madjid.