SUMATERA BARAT — Janji subsidi Rp 7 juta untuk motor listrik pada 2025 yang tak pernah terealisasi membuat konsumen menahan pembelian dan modal industri ikut macet. Wakil Ketua Umum Periklindo Prabowo Kartoleksono menyebut permintaan pasar yang tertahan ini sebagai akar mandeknya industri roda dua listrik dalam negeri, termasuk rantai pasok komponennya.
Prabowo Kartoleksono membeberkan kronologi masalahnya dalam diskusi detikcom Leaders Forum bertajuk Memperkuat Industri Kendaraan Listrik, Mendorong Ketahanan Energi, di Jakarta (20/10/2026). Menurut dia, industri sudah menyiapkan material dan produk dengan asumsi subsidi Rp 7 juta akan mendorong permintaan sepanjang 2025.
Asumsi itu tidak pernah terwujud. Konsumen yang menunggu kepastian bantuan pemerintah memilih menunda pembelian, dan produsen terjebak dengan stok serta modal yang sudah terlanjur dikeluarkan.
Subsidi Dijanjikan Januari, Tak Cair Sampai 31 Desember
Prabowo menyebut janji subsidi itu bergulir tanpa kepastian sepanjang tahun. Januari tidak keluar, Februari tidak keluar, hingga 31 Desember pun tidak terealisasi.
Konsumen membaca situasi itu sebagai alasan untuk menunggu. Logikanya sederhana: kalau membeli sekarang lalu subsidi tiba-tiba keluar, mereka rugi Rp 7 juta.
"Roda dua (listrik) itu harusnya pasarnya menjadi lebih pesat. Tapi nggak bisa. Kenapa? Karena 2025 kita dijanjikan oleh pemerintah yang namanya subsidi Rp 7 juta," kata Prabowo.
Penundaan massal itulah yang membuat penjualan tidak berjalan sesuai harapan. Permintaan yang seharusnya muncul justru mengendap, sementara industri sudah telanjur percaya insentif pemerintah akan datang.
Modal Produsen Tertahan di Gudang
Produsen membeli material dari vendor dengan asumsi subsidi akan tersedia. Ketika permintaan tidak datang, uang mereka mandek di stok yang tidak bergerak.
"Industri sudah menyiapkan material (dari vendor) karena percaya subsidi akan tersedia. Namun, ketika permintaan tidak datang, uang mereka akhirnya mandek," ujarnya.
Sebagian pelaku usaha mencari jalan keluar lewat skema rent to own, di mana konsumen menyewa motor listrik lebih dulu dan kendaraan menjadi miliknya setelah masa sewa berakhir. Skema ini membantu penjualan tetap jalan, tapi uang yang seharusnya diterima tunai harus tertahan selama periode sewa.
Vendor Komponen Ikut Kehilangan Pasar
Efeknya merambat ke industri pemasok komponen. Ketika produsen motor tidak mendapat pesanan, vendor kehilangan pasar dan rencana investasinya terhambat.
"Vendornya juga mau supply ke A, ke B, ke C. Akhirnya nol. Nggak ada penjualan. Akhirnya mereka menunda masuk ke Indonesia. Akhirnya industrinya belum siap sama sekali. Jadi masih impor," jelas Prabowo.
Kondisi ini membuat industri komponen motor listrik dalam negeri belum berkembang sesuai harapan. Ekosistem kendaraan listrik roda dua sebenarnya tidak hanya soal baterai, tapi juga sasis, bodi, dan berbagai komponen kelistrikan lain.
Prabowo mencontohkan komponen pengendali atau controller yang masih harus diimpor karena industri dalam negeri belum siap memasok kebutuhan tersebut.
Kepastian Permintaan Jadi Kunci Investasi
Menurut Prabowo, kepastian permintaan pasar adalah syarat agar industri berani menaikkan produksi, mengembangkan pemasok lokal, dan berinvestasi di Indonesia. Tanpa itu, rencana ekspansi hanya berhenti di atas kertas.
"Kalau ditanya apakah industri motor listrik roda dua sudah siap, menurut saya belum. Sebab, demand (permintaan pasarnya) belum terlihat," tukasnya.
Pernyataan itu merangkum persoalan yang lebih dalam dari sekadar angka penjualan. Janji insentif yang tidak pasti membuat konsumen menunggu, produsen menahan modal, dan vendor menunda investasi. Rantai itu putus di titik yang sama: tidak ada kepastian kapan subsidi benar-benar cair.